cuma blog personal

26Apr/080

ICT Lagi .. ICT Lagi

Hehh .. saat ini UB sedang membentuk team ICT yang kalo saya nggak salah itung, adalah yang keenam. Tujuan masih aja tetep sama, bermimpi untuk memiliki sebuah kelembagaan TI yang mencakup semua hal terkait implementasi TI di UB.

Ada beberapa alasan yang digunakan untuk menggulirkan rencana ini. Misal, bahwa kenyataan TI di UB belum seperti yang diharapkan, bahwa operasional TI masih dibawah pengelolaan yang tidak tertata dengan baek, bahwa TI saat ini dikelola oleh sekian banyak lembaga yang pada pelaksanaannya lebih bersifat mementingkan diri sendiri dan lembaga itu sendiri.

Well .. kalo emang itu kenyataannya, kenapa koq nggak bener bener ditangani dengan tuntas ? Ini isu udah mulai ada sejak taun 2001 loh. Ada apa sebenarnya ?

Tanpa meletakkan diri sebagai bagian dari kelembagaan TI manapun di UB, (kenyataannya emang saya ikutan di hampir seluruh kelembagaan TI di Universitas, sebutlah UPPTI, PPE, Inherent dan IMHERE) ada beberapa hal yang menurut saya menjadi sumber kekurangan (kalo tidak mau dikatakan sebagai kegagalan) pengembangan TI di UB.

Pertama, perhatian dan komitmen pimpinan (tinggi dan menengah) di UB terhadap TI masih kurang. Maunya ngembangin TI seluas-luasnya, selengkap-lengkapnya, tapi nggak tau apa sih benernya keinginannya terhadap TI itu sendiri. Mau enaknya tok. OK lah disebabkan karena jabatannya yang melingkupi banyak hal, tapi sebagai pemimpin kan mestinya ada pada kondisi “mengetahui” .. bukan sekedar “tembusan” .. bukan sekedar “arsip” kalo nggak sanggup ya nggak usah jadi pemimpin. Ini perhatian. Terus terkait komitmen, dimana mana orang selalu sepakat TI itu mahal dan kompleks. Orang juga sepakat, TI itu pada akhirnya akan sangat bernilai. Begitu kena dengan urusan anggaran, selalu saja direspon lama, bahkan tidak direspon sama sekali. Apa bisa mengimplementasikan aplikasi SIMPT (yang sembilan biji itu) hanya dengan mengandalkan pc router jadul, kabel koaksial dan pc yang dipaksa jadi server ? Apa nyaman orang yang membuat network dan aplikasi itu hanya dengan mengandalkan surat kontrak dan dikasih name tag berlogo UB ? Apa enak berlama lama di depan monitor hanya dengan uang rokok ? Apa lantas jadi salah kalo para pekerjanya kemudian kreatif mencari uang sendiri ? Ini kan butuh komitmen yang nggak sekedar lewat, asal lalu aja.

Kedua,  kemauan para administrator dan operator, yang notabene adalah pegawai negeri, untuk mempelajari sistem aplikasi dan fasilitas TI yang sudah ada. Banyak sudah aplikasi yang dikembangkan. Udah cukup untuk mendukung kegiatan akademik dan administrasi sehari-hari, walaupun emang belum bisa dikatakan lengkap dan sempurna. Sering sudah pelatihan dan workshop itu diadakan. Tapi kenyatannya ? banyak tuh admin dan operator yang tetep aja dateng bawa data sekenanya dan diserahkan kembali ke pengembang untuk di-entry-kan ke sistem aplikasinya. Nah loh, kalo udah kayak gini, gimana akan ada kesimpulan bahwa sistem itu telah baek. Pasti lah sistem yang akan disalahkan. Ntah dengan alasan nggak baek, ribet, makenya syusyah .. dan seterusnya. Dengan ditambah lagi satu kenyataan, bahwa para pimpinan cenderung menyerahkan proses operasional ke pekerja, tanpa dia pahami apa yang terjadi, maka lengkaplah sudah. Walaupun operator yang salah, dengan sedikit “speaking ability” , para dekan, kabiro dan pr yang nggak ngeh itu langsung akan menyimpulkan, ini network masalah, ini aplikasi jelek. Mau lah belajar untuk mengetahui … please

Ketiga, harus diakui bahwa organisasi TI di UB itu kebanyakan. Kenapa sih tidak ditata dengan baek, dengan task force yang jelas, dengan deskripsi tugas dan tanggung jawab yang terdeskripsi dengan baek. Nggak ada orang kah ? Ya nggak mungkinlah .. orang UB itu gudangnya para profesor, para doktor, termasuk dalam bidang manajemen. Jangan cuma konsep donk, terapin tuh teori organisasinya. Jangan teori politik dan kepentingan aja yang diterapkan.

Udah ahhh ..

Filed under: Dan Lain Lain No Comments