cuma blog personal

18Feb/080

Arti Sebuah “Block Grant”

Udah beberapa taun ini, para pengelola pendidikan berusaha untuk mendapatkan berbagai macam bentuk block grant. Termasuk tentunya UB. Mulai akhir 1990-an misalnya, udah mulai ngejar yang namanya Due-Like. Dilanjutkan sama yang namanya TPSDP, Semi-QUE. Di awal 2000-an muncul macem macem nama kayak A2, SP4, Inherent, IMHERE dan seterusnya. Rata-rata, walaupun tidak semua, grant ini diberikan oleh dinas pendidikan dengan bantuan “soft loan” dari Asean Development Bank atau World Bank.

Kalo dari bahasa kamus, diartikan sebagai “a consolidated grant of federal funds, formerly allocated for specific programs, that a state or local government may use at its discretion for such programs as education or urban development“. Tujuannya pastinya banyak mengurus peningkatan fasilitas, perbaikan manajemen dan kualitas layanan.

Benernya sih bagus sekali konsep ini. Cuma sebagian besar yang dapat saya liat, pada kenyataannya target ataupun tujuan dari program ini pada akhirnya nggak kesampean. Kenapa ?

Pertama, dengan keterlibatan ADB atau WB .. biasanya aturan standar dan pelaksanaan program berbeda dengan yang biasa dilakukan. Jadinya, bagian administrasi sering mengalami masalah. Dan mulailah orang orang berbeda pendapat tentang bagaimana program itu seharusnya dilaksanakan. Contoh nyata, pada bagian pengadaan barang, si orang proyek ngotot dengan aturan keppres .. yang panitia block grant ngotot dengan aturan pemberi grant. Lama adalah hasil dari perbedaan ini.

Kedua, akibat dari panitia yang terus terusan ribet dengan aturan dan kebijakan yang harus dia penuhi, praktek pencapaian tujuan dan target sering kali dilakukan “ya sesempatnya” pokoknya laporan beres. Kalo udah kayak gini kira kira outcome yang diinginkan kesampean kah ? coba tanyakan sama karyawan yang tidak terlibat langsung dengan program yang dimaksud, adanya kadang jawaban “wah .. saya nggak tau kalo ada program ini .. itu” itu karyawan .. lah kalo pimpinan seperti kepala biro atau rektor yang sekedar menandatangani cuma bisa mengatakan “saya juga belum tau” hiiihiiii .. lebih parah lagi.

Ketiga, para anggota team yang ada biasanya berangkat dari berbagai latar belakang, dengan satu kesamaan, mengerti bagaimana proses administratif untuk setiap block grant, teori pelaporan dan bagaimana mengukur parameter untuk setiap kegiatan dan sub kegiatan. Dan kesepahaman yang mereka dapatkan adalah “ini adalah PROYEK block grant”. Begitu program-program block grant itu telah dijalankan dan teriakan hore sudah terdengar karena tidak ada lagi revisi laporan yang perlu dibuat, selesailah pekerjaan itu. Operasional .. kan udah tidak dibiayai lagi .. jadi nggak terlalu perlu untuk dijalankan D

Jadi kalo kita kembali lagi ke konsep awal, yang menyatakan keterlibatan ADB dan WB .. hasil akhir yang dicapai dan nyata adalah “Indonesia udah nambah utangnya lagi” dan outcome riil untuk generasi berikutnya adalah “kesiapan membayar hutang”

Maka, secara singkat dari sebagian yang saya amati .. block grant pada titik tertentu malah jadi “Grand Block” .. sebuah penghalang yang bagus dan besar untuk kebaikan generasi berikutnya (

Comments (0) Trackbacks (0)

No comments yet.


Leave a comment

No trackbacks yet.